Khalifah Di Muka Bumi
“Ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau". Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS. Al-Baqarah (2): 30)
Katakanlah wahai Muhammad terhadap kaummu cerita pembicaraan Allah kepada para Malaikat. Sesungguhnya Kami akan menjadikan Adam sebagai khalifah dan pengganti makhluk lain yang dulu menghuni bumi. Mereka itu telah musnah karena saling menumpahkan darah. Sekarang, Adam adalah pengganti mereka.
Mengenai pemusnahan ini bisa disimpulkan dari firman Allah setelah Dia menjelaskan pemusnahan orang-orang dahulu.
“Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat.” (QS. Yunus (10): 14)
Berdasarkan pengertian ayat inilah para Malaikat mengajukan pertanyaan kepada Allah secara dialogis mengenai masalah ini. Dan atas dasar pengertian ayat ini dapat disimpulkan bahwa Adam itu bukanlah jenis makhluk berakal pertama yang ada di bumi ini. Jauh sebelum Adam sudah ada makhluk berakal lainnya sebagaimana telah diisyaratkan melalui ayat diatas yang menyangkut pertanyaan para Malaikat.
Sebagian Mufasir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan khalifah disini ialah sebagai pengganti Allah dalam melaksanakan perintah-perintahNya kepada manusia. Karenanya, istilah yang mengatakan, “Manusia adalah khalifah Allah di bumi”, sudah sangat populer. Dan sebagai dalilnya adalah firman Allah kepada Nabi Daud berikut ini:
“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi…” (QS. Shad (38): 26)
Pengangkatan khalifah ini menyangkut pula pengertian pengangkatan sebagian manusia yang diberi wahyu oleh Allah tentang syariat-syariatNya. Pengertian khalifah ini juga mencakup seluruh makhluk (manusia) yang berciri mempunyai kemampuan berpikir yang luar biasa, sekalipun kita tidak mengerti secara pasti rahasia khalifah jenis terakhir ini, termasuk tidak mengetahui bagaimana prosesnya.
Ringkasnya manusia dengan kekuatan akal, ilmu pengetahuan dan daya tangkap mereka belum bisa diketahui secara jelas sampai sejauh mana kemampuan yang sesungguhnya. Dengan kemampuan akal, manusia bisa berbuat mengelola alam semesta dengan penuh kebebasan. Manusia dapat berkreasi, mengolah pertambangan dan tumbuh-tumbuhan, dapat menyelidiki lautan, daratan dan udara serta dapat merubah wajah bumi, yang tandus bisa dirubah menjadi subur dan bukit-bukit terjal bisa menjadi daratan atau lembah yang sangat subur. Dengan kemampuan akalnya, manusia pula dapat pula merubah jenis tanaman baru sebagai hasil cangkok, sehingga tumbuh pohon yang sebelumnya belum pernah ada. Kemudian, manusia dapat pula melakukan penyilangan keturunan terhadap macam-macam hewan sehingga lahir hewan-hewan bastar yang belum pernah ada. Semuanya diciptakan Allah Yang Maha Kuas untuk kepentingan umat manusia.
Jadi tak ada bukti yang lebih jelas di dalam hikmah Allah menciptakan jenis manusia ini kecuali manusia itu mempunyai keistimewaan dengan bakat-bakat yang ada pada diri mereka sehingga mampu mengemban tugas khalifah di muka bumi ini. Dengan kemampuannya ini, manusia dapatt mengungkapkan keajaiban-keajaiban ciptaan Allah dan memgungkapkan rahasia-rahasia makhlukNya.
Apakah Tuhan akan menciprtakan makhluk yang kebiasaannya membunuh antara sesama tanpa hak itu sebagai khalifah di bumi?
Apakah Tuhan hendak menjadikan seseorang yang sifatnya demikian itu sebagai khalifah? Sedangkan kami (para malaikat) adalah makhlukMu yang ma’shum (terpelihara dari kesalahan).
Ayat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa hendaknya hal ini dapat dijadikan sebagai petunjuk bagi para Malaikat agar mengetahui bahwa segala perbuatan Allah SWT. itu pasti mengandung hikmah dan kesempurnaan yang mutlak, sekaligus bagi para malaikat masih tampak samar.[]
die *Tafsir Al-Maraghi*
Ahmad Mushthafa Al-Maraghi.

Hi, this is a comment.
To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.
Comment by A.N. Other — July 30, 2006 @ 7:40 pm